Kulihat seorang pemuda yang merindukan kekasihnya
Baginya waktu tak lagi siang dan malam
Ia juga berani menantang sang petir dan badai, Ia berkata, “Demi Engkau, akan ku terjang badai, akan ku tangkap petir dengan tanganku.”
Namun cintanya pada seorang wanita, bukan lagi kehidupannya
“Tuhan, mengapa Ia terus saja kucari? Padahal Ia telah ada dalam hatiku.”
Ia menangisi keadaannya, dan kemiskinannya
Pemuda itu terus saja menangisi kesendiriannya, padahal Ia tak pernah mengharapkan kebersamaan.
Ia datang kepadaku dan bertanya, “Dari mana aku memulainya?”
Dan ku jawab, “Bukankah sudah berakhir?”