“Tanganmu menggenggam sebuah amplop kecil, jika kamu menginginkan amplop yang lebih besar, maka lepaslah genggaman tanganmu dari amplop kecil itu, agar amplop yang lebih besar mampu kau genggam.”
FaUZaNeVVa, At Great Nothing
“Tanganmu menggenggam sebuah amplop kecil, jika kamu menginginkan amplop yang lebih besar, maka lepaslah genggaman tanganmu dari amplop kecil itu, agar amplop yang lebih besar mampu kau genggam.”
FaUZaNeVVa, At Great Nothing
“I’m not afraid of anything, all I could do isn’t from Me.
Surrounded by so many thing,
it suddenly, suddenly.
I’m young and I’m free,
I got tired and I’m weak
Surrounded by so many thing,
why suddenly, it’s so suddenly
How does it feel to be
different from Me are we the same
How does it feel to be
it happened to Me are we would game
How does it feel…”
Lyrics by A.L.
We could meet the great nothing
You could give,
then I hold a knowledge
Remembering is not the way,
releasing is an option
My friend of sovereign,
at last we could happy
You are the dead thing and that I’m alive
You have no pain, but I’m suffering
Could You stand for a ‘how does it feel?’
In rememberance of my friend of sovereign, R1KG001
Seorang pemuda yang kebingungan bertanya kepada seorang bijak, “Mengapa hidup Saya susah dan penuh derita, padahal Saya senantiasa dekat dengan Tuhan agar Ia menemaniku karena Ia Maha Kaya. Dia juga tidak pelit, bukanlah begitu? Namun mereka yang kaya justru rata-rata budak dunia dan setan. Mengapa demikian?”
Orang tua bijak itu menjawabnya, “Bukankah kamu menginginkan Surga sepeti yang dijanjikan oleh Tuhan? Apakah kamu akan cukup jika Surgamu hanya sebatas dunia ini saja? Saya yakin Surgamu jauh lebih baik dari kesenangan dan keindahan dunia ini. Kamu akan paham mengapa hidupmu di dunia tak begitu nyaman.”
Pemuda itu menangis dan terduduk lemas.
FaUZaNeVVa, At Nightmare
Kutatap sang langit, maka bulan dan bintang menatapku dari kejauhan. Karena mereka kesepian jika malam hari manusia sama tertidur
Kusapa sang matahari, maka Ia tak pernah lagi kesepian di langit. Karena bulan dan bintang muncul di saat malam
Kupeluk udara pagi, maka Ia menjadikanku seorang teman. Karena tak seorangpun menyukai hawa dinginnya
Kugenggam sang tanah, maka Ia tak lagi hina. Karena Ia terlalu sering diinjak-injak
Written at dawn
Kulihat seorang pemuda yang merindukan kekasihnya
Baginya waktu tak lagi siang dan malam
Ia juga berani menantang sang petir dan badai, Ia berkata, “Demi Engkau, akan ku terjang badai, akan ku tangkap petir dengan tanganku.”
Namun cintanya pada seorang wanita, bukan lagi kehidupannya
“Tuhan, mengapa Ia terus saja kucari? Padahal Ia telah ada dalam hatiku.”
Ia menangisi keadaannya, dan kemiskinannya
Pemuda itu terus saja menangisi kesendiriannya, padahal Ia tak pernah mengharapkan kebersamaan.
Ia datang kepadaku dan bertanya, “Dari mana aku memulainya?”
Dan ku jawab, “Bukankah sudah berakhir?”